Kamis, 18 Desember 2008

Candi Jabung


Candi Jabung (Jawa Timur)

Candi Jabung terletak di Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur. Candi ini pernah disebut dalam kitab babad Nagarakrtagama, khususnya pada bagian yang memaparkan perjalanan raja Hayam Wuruk (Rajasanagara). Rajasanagara dikenal sebagai salah seorang raja yang “memperhatikan” berbagai bangunan pemujaan untuk para leluhurnya, yang terserak di berbagai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perjalanan Rajasanagara tak ubahnya perjalanan yang dilakukan oleh para sejarawan atau para arkeolog masa kini, ketika melakukan penelitian atau peninjauan.

Candi Jabung yang ditahbiskan sebagai bangunan suci dengan nama Bajrajinaparamitapura, dalam Nagarakrtagama disebut Candi Kalayu, sementara dalam Kitab Pararaton disebut Candi Sajabung, merupakan bangunan suci untuk pemujaan bagi tokoh wanita keluarga HayamWuruk, bernama Brha Gundal, didirikan pada pertengahan abad XIV Masehi, dimana kepemimpinan dwi tunggal Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada/Pu Mada.

Baik Nagarakrtagama maupun Pararaton menyebut perjalanan budaya Hayam Wuruk bertujuan terutama untuk menghayati keadaan masyarakat yang dipimpinnya, tak ubahnya semacam “sidak” (inspeksi mendadak) yang biasa dilakukan oleh para pejabat masa kini. Perjalanan itu dimulai pada tahun ketiga masa pemerintahannya, yakni 1275 C/1353 M, lalu pada 1354 M ke Lasem, pada 1357 melewati Lodaya. Selanjutnya pada tahun 1361 M Hayam Wuruk beserta rombongannya melakukan peninjauan ke Palah untuk mengadakan pemujaan, yang kemudian diteruskan ke Lwang Wentar, Balitar, Jime dan terus ke Simping untuk “nyekar” atau ziarah ke makam kakeknya (R. Wijaya/Krtarajasa) sekaligus memperbaiki Candi Sumberjati tersebut.

Hayam Wuruk: Sang pemugar pertama
Secara umum, profil Candi Jabung dapat dijalaskan sebagai berikut. Candi mengharap ke arah barat, batur dan kaki candi berdenah persegi, badan candi silindrik, dan atap candi berakhir dengan ke muncak berbentuk stupa/dagoba (telah runtuh). Candi dengan nama tahbis Brajajinaparamitapura ini, pada bagian batur dan kaki candi terdapat relie hias bermotif sulur-suluran dan medallion, sementara pada badan candi dipahatkan adegan-adegan ceritera Sri Tanjung.

Pada ambang relung-relung candi terdapat hiasan kepala kala motif Jawa Timur, serta sebuah relief rosetta dengan angka tahun 1276 Caka (1354 M). Dalam bilik candi masih terdapat lapik arca, sedangkan pada atap candi dipahatkan motif hias sulur-suluran.

Angka tahun 1276 Caka/1354 Masehi, sangat boleh jadi bkanlah angka tahun pembangunan candi karena baik menurut Nagarakrtagama maupun Pararaton, angka tersebut menunjuk pada pertanggalan perjalanan Hayam Wuruk ke candi tersebut dan sekaligus memperbaiki/memugar candi pemujaan untuk Raden Wijaya itu. Dalam catatan sejarah, Hayam Wuruk-lah raja pertama Nusantara, yang disebut-sebut melakukan perjalanan ke berbagai bangunan/monumen arkeologis dan melaksanakan pemugaran-pemugaran pertama di berbagai candi.

Perjalanan dengan rombongan terbesar, yang diiringi oleh seluruh keluarga raja (Bhatara Sapta Prabhu), para menteri, pemimpin agama dan wakil golongan masyarakat dilakukan pada tahun 1281 Caka/1359 Masehi. Dan baru pada tahun 1362 Hayam Wuruk melaksanakan upacara Craddha (upacara pelepasan roh dalam mitologi Hidu-Buddha, sehingga ia wafat benar-benar memperoleh kelepasan/moksha atau nirwana).

Selain sebagai inspeksi mendadak dan peziarahan, terdapat pula anggapan bahwa perjalanan Hayam Wuruk itu merupakan salah satu dharma yang harus dijalaninya, yang mengandung arti magis, yakni untuk penyatuan dan kesatuan (unity) wilayah kerajaannya.

Dalam usaha memelihara kesatuan tersebut, antara lain tampak dari perhatian “pusat” terhadap “daerah”, misalnya melalui perbaikan-perbaikan berbagai tempat penyeberangan di Sungai Solo dan Brantas, serta perbaikan bendungan Kali Konto, Hayam Wuruk juga memperindah candi pemujaan Tribhuwanattunggadewi di Panggih, menambah candi perwara di Palah (Panataran-Blitar, 1369 M) serta sebuah pendapa untuk kepentingan persajian (1375 M). Selain memugar Candi Jabung pada tahun 1354 M, Hayam Wuruk juga menyelesaikan pembangunan dua buah candi di Kediri, yakni Candi Surawana dan Tigawangi. Akhirnya pada 1371 didirikanlah Candi Pari di dekat Porong-Jawa Timur, yang memiliki bentuk khas menyerupai bentuk percandian di Champa.

Makna Keagamaannya
Di Jawa Timurlah faham-faham keagamaan Hindu dan Budha mengalami sinkretisme. Dewa Agung, apakah itu Siwa atau Budha, dijelmakan dalam berbagai bentuk yang berlainan satu dengan lainnya. Kecenderungan penyatuan ini kemudian lambat laun terjelmakan pula dalam seni bangunan. Karena itu pula, seringkali gelar-gelar raja merupakan gabungan istilah yang terdapat di kedua agama tersebut, termasuk pula bagi istilah pemakamannya.

Sebagai contoh, setelah mati, Krtanagara dianggap pulang ke Jinendralaya karena raja ini dianggap sebagai seorang Jina, tetapi sekaligus pula disebutkan moteng ing Civabuddhalaya. Demikian pula misalnya Wisnuwardhana disebut meninggal dan dimakamkan di Wareli (Waleri?) sebagai Civa dan Jajaghu (Candi Jago) sebagai Amoghapaca.

Mengingat bahwa tradisi perawatan jenazah pada kepercayaan Hindu maupun Buddha dan kremasi (pembakaran) sementara abunya dibuang di sungai/laut, maka dalam menyebut kematian dan pemakaman dikenal berbagai istilah ganda, seperti lumah ri (yang dimakamkan di), mokteng (yang moksa di) atau lina ri (yang meninggal di).

Pada masa eksistensi Majapahit berkembang pemikiran bahwa Hundu dan Buddha merupakan penampilan bentuk berbeda atas kebenaran absolut yang sama, yang dalam praktek ritus keagamaan sehari-hari keduanya dibaurkan. Secara tidak langsung kita dapat melihat simbolisasi kedua keagamaan tersebut dalam bentuk-bentuk bangunan. Pada Candi Jago didapat pahatan relief yang mengangkat legenda yang terdapat dalam baik agama Buddha maupun Hindu. Candi Jawi memiliki arca siwaitis, tetapi berakhir dengan kemuncak stupa. Dari sumber sastera Bali dianggap tidak ada perbedaan esensial antara Siwa dan Buddha, bahkan Mpu Tantular menganggap bahwa lima perwujudan Siwa sama dengan lima Jina.

Candi Jabung juga merupakan candi yang memiliki perpaduan siwaisme dan buddhisme. Pahatan relief Sri Tanjung siwaistik, sementara kemuncak stupa buddhistik. Legenda Sri Tanjung pada dasarnya mengisahkan fitnahan terhadap Sri Tanjung, seorang dewi yang sangat cantik, isteri Raden Sidapaksa, yang berakhir dengan kematian/pembunuhan Sri Tanjung.

Karena tidak bersalah, maka Sri Tanjung dihidupkan kembali oleh para dewa dan bertempat tinggal di kediamannya semula sebelum kawin. Raden Sidapaksa disuruh oleh Betari Durga untuk pergi ke kediaman Sri Tanjung, namun isteri yang teraniaya ini menolak untuk rujuk kembali, kecuali apabila Raden Sidapaksa dapat membunuh dan membawa rambut (si pemfitnah) untuk dijadikan kesed (pembersih kaki) Sri Tanjung. Setelah permintaan tersebut terlaksana, suami-isteri itu kembali bersama-sama.

Relief legenda Sri Tanjung selain dipahatkan di Candi Jabung juga terdapat pada panil-panil di Candi Surawana, di mana terdapat pula pahatan ceritera Bubuksah dan Gagakaking serta Arjunawiwaha. Candi Jabung merupakan salah satu bukti arsitektur yang memadukan falsafah/keagamaan Hindu dan Buddha secara bersamaan.

Candi Jabung Sebagai Cagar Budaya
Pemugaran pertama Candi Jabung pada 1354 Masehi, untuk lebih dari 500 tahun kemudian terlupakan dari jamahan upaya untuk melestarikannya. Candi bata berukuran panjang 13,13 m, lebar 9,6 m dan tinggi 16,42 m tersebut baru dipugar kembali pada 1983-1985. Candi yang secara tipologis memiliki kesamaan bentuk prinsip dengan candi-candi Muara Takus (Riau) dan Biaro Bahal (Padang Sidempuan) tersebut merupakan salah satu benda cagar budaya yang sampai sekarang terus diupayakan pelestariannya.

Kegiatan pemugaran pada 1983-1985 meliputi pemasangan perancah, pendokumentasian dan penggambaran, pembongkaran (dismatling) bagian-bagian yang rusak, pemasangan/sisipan batu isian dan konservasi batuan seta lingkungannya. Dalam kegiatan tersebut ditemui sedikit hambatan, yakni kesulitan memperoleh bata merah berukuran besar di Desa Jabung Candi maupun di wilayah Kecamatan Paiton, sehingga untuk mengatasinya terpaksa didatangkan dari daerah lain.

Candi Jabung yang diresmikan purna pugarnya oleh Dirjen Kebudayaan pada 5-11-87 dan bercorak khas ini harus tetap lestari dan eksis dalam lingkungan yang serasi. Pemanfaatan bagi kepentingan pariwisata dalam fungsinya sebagai salah satu obyek wisata budaya, bagaianapun harus mengacu pada UU No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya dan peraturan perundang-undangan lain yang belum pernah dicabut/masih diberlakukan.

Pertimbangan pelestarian benda cagar budaya atas dasar bahwa benda-benda tersebut merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemanfaatan Candi Jabung bagi kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan dan pariwisata (Pasal 19 ayat 1) tidak boleh bertentangan dengan upaya-upaya perlindungan dan pelestariannya.

Rabu, 17 Desember 2008

Gunung bromo


Bromo mempunyai pesona alam yang sangat luar biasa, tidak akan pernah habis kekaguman kita oleh pemandangan alam yang indah. Gunung Bromo berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Brahma atau seorang dewa yang utama, gunung bromo ini merupakan gunung yang masih aktif dan objek pariwisata yang sangat terkenal diwilayah jawa Timur. Gunung bromo mempunyai ketinggian 2.400 meter diatas permukaan laut.
Padang Savana dialam pegunungan yang sangat sejuk, kita dapat melihat rerumputan kering dan padang pasir yang sangat luas. Yang sangat menarik dan indah pada saat matahari terbit yang kita lihat dari Puncak Gunung di Pananjakan, karena kabut yang menyelimuti bawah gunung bromo membuat panorama indah dan mistik. Untuk mencapai gunung pananjakan kita dapat menyewa mobil hardtop yang banyak terdapat di penginapan. Atau jika anda ingin menikmati pemandangan secara alami dan sehat anda dapat melewati jalan setapak menunuju jalan penanjakan. Tetapi sangat disarankan anda menyewa guide yang sudah sangat terbiasa akan jalan dan medan di Bromo.

Selain itu juga Suku Tengger memiliki daya tarik yang luar biasa karena mereka sangat berpegang teguh pada adat istiadat dan budaya yang menjadi pedoman hidupnya. Pada tahun 1990 suku tengger tercatat berjumlah 50 ribu yang tinggal dilereng gunung Semeru dan disekitar kaldera. Mereka sangat dihormati oleh penduduk sekitar karena mereka sangat memegang teguh budaya mereka dengan hidup jujur dan tidak iri hati. Konon Suku tengger adalah keturunan Roro Anteng(putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (putera brahmana). Bahasa daerah yang mereka gunakan sehari hari adalah bahasa jawa kuno. Mereka tidak memiliki kasta bahasa, sangat berbeda dengan Bahasa jawa yang dipakai umumnya karena mempunyai tingkatan bahasa.

Sejak Jaman Majapahit konon wilayah yang mereka huni adalah tempat suci, karena mereka dianggap abdi – abdi kerajaan Majapahit. Sampai saat ini mereka masih menganut agama hindu, yang membedakan dengan hindu dharma Bali adalah perbedaan kasta. Mereka tidak menganut sistem kasta sedangkan kepercayaan Hindu yang terdapat dibali menggunakan sistem kasta. Setahun sekali masyarakat tengger mengadakan upacara yadnya Kasada. Upacara ini berlokasi disebuah pura yang berada dibawah kaki gunung bromo. Dan setelah itu dilanjutkan kepuncak gunung bromo. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama dibulan kasodo menurut penanggalan jawa.

Tempat untuk mengadakan upacara kasada adalah Pura Luhur Poten Gunung Bromo, tidak seperti pemeluk hindu pada umumnya yang memiliki candi candi sebagai tempat ibadah. Namun poten merupakan sebidang tanah dilahan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara kasada. Asal usul upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu “Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari kerajaan Majapahit, permaisuri dikaruniai anak perempuan yang bernama Roro Anteng. Setelah beranjak dewasa sang Putri jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari Kasta Brahmana yang bernama Joko Seger. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan dan semakin berkibarnya perkembangan Islam di P Jawa. Beberapa orang kepercayaan kerajaan dan sebagian keluarganya memutuskan pergi kewilayah timur. Dan sebagian besar ke kawasan pegunungan tengger, termasuk Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah mereka menjadi penguasa diwilayah ini, mereka sangat sedih karena belum dikaruniai seorang anak. Berbagai macam cara mereka coba, sampai pada akhirnya mereka kepuncak Gunung Bromo untuk bersemedi. Akhirnya permintaan mereka dikabulkan dengan munculnya suara gaib, dengan syarat anak bungsu mereka setelah lahir harus dikorbankan kekawah gunung bromo. Setelah mereka dikaruniai 25 orang anak, tiba saatnya mereka harus mengorbankan si bungsu. Tetapi mereka tidak tega melakukannya, karena hati nurani orang tua yang tidak tega membunuh anaknya. Akhirnya sang dewa marah dan menjilat anak bungsu tersebut masuk kekawah gunung, timbul suara dari si bungsu agar orang tua mereka hidup tenang beserta saudara-saudaranya. Dan tiap tahun untuk melakukan sesaji yang dibuang ke gunung bromo. Sampai sekarang adat istiadat ini dilakukan secara turun menurun.

Untuk dapat melihat upacara kasada bromo lebih baik kita datang sebelum tengah malam, karena ramainya persiapan para dukun. Hari hari upacara kasada bromo, banyak penduduk sekitar yang berdatangan. Baik mengendarai sepeda motor atau kendaraan pribadi lainnya. Sehingga mengakibatkan jalanan kebawah menuju kaki gunung sangat macet. Dan bisa membuat Mobil dari gerbang tidak bisa turun kebawah. Jalan lain kebawah yaitu anda berjalan dengan rombongan rombongan penduduk yang menuju pura. Karena jika sendiri dipastikan akan tersesat, karena kabut yang sangat tebal dan pandangan sangat terganggu.

Selain itu Upacara Kasada bromo juga dilakukan untuk mengangkat seorang Tabib atau dukun disetiap desa. Agar mereka dapat diangkat oleh para tetua adat, mereka harus bisa mengamalkan dan menghafal mantera mantera. Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo. Pada malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong dengan membawa ongkek yang berisi sesajo dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun sepuh yang dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir gunung bromo. Bagi masyarakat Tengger, peranan Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara – acara ritual, perkawinan dll. Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus ujian dengan cara menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra.

Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.

Arung Jeram Pekalen

Arung jeram Pekalen

Kabupaten Probolinggo memiliki tempat wisata minat khusus berupa arena arung jeram. Wisatawan dapat dengan mudah menikmati derasnya Jeram Sungai Pekalen yang mengasyikkan hanya dengan menempuh jarak 26 km dengan mobil dari Kota Probolinggo atau selama 30 menit ke arah Selatan.
Sungai Pekalen yang menjadi arena olah raga mendebarkan ini, berketinggian 500 m dpl. Dengan tingkat kesulitan bervariasi mulai grade I sampai dengan grade III plus dengan jeram sebanyak 30 jeram. Arung jeram ini hanya boleh diikuti wisatawan usia 10-60 tahun. Jarak arung jeram sejauh 9km ditempuh selama 2,5 sampai 3 jam, termasuk istirahat ditengah perjalanan sambil menikmati buah kelapa muda (degan).

Dengan jumlah guide sebanyak 33 orang dan 27 perahu karet mampu melayani peserta rafting sebanyak 500 orang pada saat liburan sekolah. Sehingga dalam satu tahun mencapai 10.000 orang. Guide sebanyak itu direkrut dari masyarakat sekitar Sungai Pekalen yang notabene lebih mengenal topografi daerahnya. Masyarakat juga dilibatkan dalam melayani transportasi dari Basecamp ke lokasi start di desa Pesawahan. Masing-masing perlengkapan di bawa sendiri, satu kendaraan berupa pick-up biasanya mengangkut 2 team. Satu team berisi 6 orang termasuk seorang guide.

Songa mengemas beberapa sajian rekreasi yang dahulu mungkin hanyalah sebuah angan-angan belaka atau bahkan sempat tak terpikirkan karena terlalu berbahaya, tak adanya fasilitas, atau sumber daya manusia yang belum terlatih. Dari berbagai jenis dan ragamnya rekreasi, Songa menawarkan untuk kembali ke berbagai hal yang bersifat alami, yaitu rekreasi alam terbuka dan alam liar.
Kecenderungan untuk menikmati hal-hal yang alami sudah ada dalam diri manusia. Secara sadar atau tidak kita tahu, bahwa rekreasi membawa manusia pada pola kehidupan yang lebih menyenangkan, menyehatkan, mensejahterakan dan membahagiakan.
Arung Jeram merupakan rekreasi air mengarungi sungai berair deras menggunakan sarana perahu karet. Perahu karet yang dipakai adalah jenis inflatable raft yang memang diperuntukkan untuk melewati jeram dengan aman karena berisi udara yang dapat meredam benturan antara badan perahu dengan bebatuan jeram.
Selain itu para penikmat wisata arung jeram dilengkapi pelindung keselamatan seperti helm dan jaket pelampung, serta dipandu oleh seorang guide yang telah terlatih dan berpengalaman. Sehingga rekreasi ini dapat dinikmati oleh orang awam yang tidak bisa berenang sekalipun.
Karekteristik Sungai Pekalen
• Bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan.
• Lebar sungai rata-rata 5-20 meter Kedalaman air ± 1-3 meter
• Jarak pengarungan dari Start-Finish ±12 kilometer yang ditempuh selama ± 3,5 jam

Air Terjun Madakaripura





Di samping ini adalah Tempat wisata Probolinggo yang populer yaitu air Terjun Madakaripura. Disini banyak pengunjung yang datang untuk melihat air terjun Madakaripura. wisata Air terjun Madakaripura ini enak sekali, karena tempatnya di tengah-tengah gunung. Asal usul air terjun Madakaripura ini dibuat untuk persemedian patih gajah mada dari majapahit. makanya dinamakan MADAKariPURA

Pantai Bentar


Di samping ini adalah salah satu tempat pariwisata yang juga terkenal di Probolinggo, yaitu pantai Bentar. pantai bentar ini sangat indah. Kita juga bisa melihat laut dan bukit.

Pemkab Probolinggo

SEJARAH SINGKAT KOTA PROBOLINGGO





BANGER dan PROBOLINGGO

Pada zaman Pemerintahan Prabu Sri Nata Hayam Wuruk raja Majapahit yang ke IV (1350-1389), Probolinggo dikenal dengan nama “ Banger “, nama sungai yang mengalir ditengah daerah Banger ini.


Sejalan dengan perkembangan Politik kenegaraan/kekuasaan di Zaman Kerajaan Majapahit, pemerintahan di Banger Juga mengalami perubahan-perubahan/perkembangan seirama dengan perkembangan Zaman. Pada saat Minakjinggo, Raja Blambangan berkuasa, banger yang merupakan perbatasan antara Majapahit dan Blambangan dikuasai pula oleh Minakjinggo.


Bahkan Banger menjadi kancah perang saudara antara Blambangan dan Majapahit yang dikenal dengan “ Perang Paregreg “.Adapun Nama Banger ini diberikan karena airnya berbau amis/Banger karena darah Menak Jinggo yang dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan.


Banger, pada masa Pemerintah VOC tahun 1746 mengangkat Kyai Djoyolelono sebagai Bupati Pertama di Banger, dengan gelar Tumenggung.

Karena Politik adu domba maka pada tahun 1768 Bupati Banger meninggalkan jabatannya dan mengembara /lelono dan sebagai penggantinya adalah Kyai Djoyolelono menurut cerita Kabupatennya di Benteng Lama. Masa Pemerintahan Tumenggung Joyonegoro Daerah Banger amat makmur penduduknya tambah banyak, yang kemudian Beliau mendirikan Masjid Jami’ lebh kurang tahun 1770 kemudian nama Banger oleh Tumenggung Joyonegoro diganti menjadi PROBOLINGGO yang artinya : Probo = Sinar, Linggo=Tugu, badan, tanda, peringatan, tongkat.

Jadi Probolinggo adalah Sinar yang berbentuk tugu, gada, tongkat (mungkin yang dimaksud adalah meteor/bintang jatuh), Setelah wafat Kanjeng Jimat dimakamkan di Pesarean belakang Masjid Jami’ dan karena disenangi masyarakat beliau mendapat sebutan “ Kanjeng djimat “